Dunia, Chakiya, India- Priyanka Kumari, 25 tahun, beberapa hari lalu melahirkan bayi perempuan. Namun ia menolak untuk menyusui bayinya disebabkan bayinya  dijuluki alien. Ia kaget bercampur takut menyaksikan kondisi fisik bayi perempuannya itu.

Bayi perempuan Priyanka yang belum diberi nama disebut mirip alien karena kondisi fisiknya yang sangat aneh. Kepalanya membesar, ada gelembung cairan yang membesar, dan kedua kelopak matanya bengkak.

Orang-orang berbondong-bondong mendatangi rumah Priyanka di desa Banshgat, distrik Chakiya, India untuk menyaksikan bayi aneh itu.  Banyak orang memanjatkan doa saat menyaksikan bayi itu karena mereka beranggapan bayi Priyanka inkarnasi dari dewa Hindu.

Namun Priyanka dan suaminya, seorang buruh tani, Balindra Mahto, 34 tahun menyakini bayi perempuan mereka sebagai kutukan.

"Saya terus mengutuki diri saya atas kejadian ini. Saat saya melihatnya pertama kali, saya kaget. Saya mengira bagaimana saya dapat melahirkan sesuatu seperti ini? Sekarang, saya khawatir mengenai masa depannya," kata Priyanka,

Menurut perempuan yang baru pertama kali melahirkan ini, dirinya tak pernah membayangkan akan mengalami trauma seperti ini. "Bayi perempuan ini tidak normal seperti anak-anak lain," ujar Priyanka.

Mengutip Mirror, penderitaan yang dialami bayi perempuan tersebut disebabkan kelaian genetik yang dinamai Harlequin Ichthyosis. Penyakit ini muncul disebabkan kekurangan gizi yang mengakibatkan penipisan kulit dan cacat fisik.

"Peluang hidup bagi penderita kasus seperti ini hanya satu untuk 10 juta kasus," kata dokter Rajan Sinwa yang merawat bayi ini.

Menurut Sinwa, meski kondisi kesehatan ibu baik, namun belum tentu hal serupa terjadi pada bayinya.

Suami Priyanka, Mahto mengaku kebingungan dengan penderitaan bayinya. "Saya sungguh bingung. Saya tidak tahu apa yang dilakukan. Saya hanya mengikuti instruksi dokter-dokter di rumah sakit. Tuhan dapat memberinya kesehatan. Namun sekarang apapun yang terjadi padanya, itu demi kebaikan. Saya berdoa untuk kesehatannya di masa depan," ujar Mahto.

MIRROR | MARIA RITA