Nasional, Medan - Gerakan Anti Penistaan Agama Islam (GAPAI) Sumatera Utara menolak kedatangan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnavian. Hal tersebut menjadi sikap GAPAI terkait kunjungan kerja yang dilakukan Kapolri ke Medan pada Ahad, 5 Februari 2017.

Koordinator GAPAI Sumatera Utara, Ustadz Heriansyah, menjelaskan bahwa alasan penolakan tersebut dilatarbelakangi oleh sikap Kapolri yang selama ini dianggapnya tidak netral.
"Kita secara tegas menolak kedatangan Kapolri ke Medan. Itu karena Kapolri tidak bisa netral akan tugas yang dipegang," ujar Heriansyah saat dihubungi Tempo, hari ini.

Baca juga:
Kapolri Tito Karnavian Mutasi Sejumlah Perwira Polisi

Heriansyah menilai, terlihat bagaimana penyelesaian kasus Ahok yang dianggap berlarut-larut tanpa titik temu yang jelas. Selain itu, menurutnya, Kapolri juga dianggap bagian dari tindak kriminalisasi terhadap ulama.

Meskipun tidak akan melakukan aksi-aksi tertentu, namun GAPAI Sumut tetap dengan tegas menyerukan penolakannya terhadap kedatangan Kapolri. Bahkan, mereka menganggap Tito Karnavian tidak lagi Pimpinan Kepolisian di Indonesia. "Tidak ada aksi-aksi tertentu yang akan kami lakukan, hanya konsolidasi umat saja. Namun kami menegaskan jika kami tidak anggap lagi Tito sebagai Kapolri," kata Heriansyah.

Baca pula:
Polri Pastikan Rekrutmen Anggota Baru Berjalan Transparan

Kedatangan Kapolri, Tito Karnavian ke Medan untuk peresmian Program Electronic Policing (E-Policing) Polda Sumatera Utara. Tito yang tiba di Kuala Namu Internasional Airport (KNIA) pada Sabtu malam, 4 Februari 2017, disambut oleh Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel dan berberapa tokoh agama lainnya seperti Pimpinan Wilayah NU Sumut, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumut, Ketua MUI Medan, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) serta kalangan lainnya.

IIL ASKAR MONDZA

Simak:
Kasus Ahok, Istana Ikut Repot