Pilkada, Jakarta - Mendekati hari pemilihan kepala daerah, sejumlah lembaga survei kembali merilis hasil survei elektabilitas para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Hasilnya. ada perubahan angka elektabilitas para pasangan calon pada pekan terakhir sebelum hari pencoblosan.

Dari tiga lembaga survei, dua lembaga menempatkan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni sebagai posisi pertama. Survei-survei ini dilakukan pada awal Februari 2017. Berikut rinciannya.

Baca : Ahok dan Sylvi Saling Serang dalam Debat Pilkada DKI Terakhir
Enam Lembaga Rilis Hasil Survei Pilkada DKI, Ahok Unggul

- Indikator Politik
Lembaga survei yang dipimpin Burhanuddin Muhtadi ini menggelar survei pada 2-8 Februari 2017 lalu. Hasilnya, pasangan Ahok-Djarot unggul dengan perolehan 39 persen. Meningkat dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya sebesar 38,2 persen.
Adapun elektabilitas pasangan calon nomor urut tiga, yaitu Anies Baswedan-Sandiaga Uno, meningkat drastis dari 23,8 persen pada Januari 2017 menjadi 35,4 persen. Sedangkan pasangan nomor urut 1, Agus-Sylvi justru mengalami penurunan. Sebelumnya Agus-Sylvi bisa memperoleh 23,6 persen suara, namun dalam survei terbaru hanya 19,4 persen suara.
Survei itu dilakukan dengan metode tatap muka terhadap 621 responden yang tersebar di 230 kelurahan dan 621 rukun tetangga (RT) di DKI Jakarta. margin of errornya plus minus 4.
Menurut Burhanuddin, Agus-Sylvi bisa tersingkir dari putaran pertama jika tak bisa mengubah keadaaan menjelang hari pencoblosan. Di sisi lain, meski unggul, kenaikan elektabilitas Ahok-Djarot tidak signifikan jika dibandingkan dengan Anies-Sandi.

- Manilka Research and Consulting
Berbeda dengan hasil survei Indikator Politik, hasil survei Manilka Research and Consulting  justru menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi sebagai yang tertinggi. Pasangan nomor urut satu itu dipilih oleh 38,61 persen responden.
Pasangan Anies-Sandi menempati posisi kedua sebesar 25,25 persen responden. Lalu pasangan Ahok-Djarot ada di peringkat ketiga dengan elektabilitas sebesar 21,70 persen. Di antaranya, masih ada 12,13 persen responden yang belum memutuskan pilihannya dan 2,31 persen responden yang tidak memilih.
Manilka menggelar survei pada 31 Januari - 4 Februari 2017 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel diambil sebanyak 1.212 responden yang tersebar di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Survei menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error plus minus 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Direktur Manilka Dani Akhyar berpendapat, 90 persen para pemilih ini kemungkinan tidak akan mengubah pilihannya hingga hari pencoblosan. Namun peta suara masih bisa berubah karena ada 12,13 persen pemilih yang belum menentukan pilihan. Selain itu, ada 4,67 persen total suara dari ketiga calon gubernur yang bisa mengubah pilihan.

- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA
Hasil sigi lembaga survei ini menempatkan Agus-Sylvi dalam posisi pertama. Elektabilitas pasangan ini sebesar 30,9 persen. Disusul oleh pasangan inkumben Ahok-Djarot sebesar 30,7 persen dan Anies-Sandi di posisi ketiga dengan perolehan 29,9 persen.
Menurut survei serupa yang pernah dilakukan LSI, perolehan suara semua pasangan calon menunjukkan tren penurunan. Penyebabnya diduga karena berbagai persoalan yang terjadi belakangan ini, di antaranya adalah Sylvi yang terlibat kasus dana pramuka, Ahok karena pernyataannya terhadap Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin dan Anies yang masih dianggap sebagai penganut syiah.
Selain itu, angka elektabilitas itu menunjukkan jika selisih perolehan suara antara para pasangan calon tidak jauh berbeda. Peneliti LSI Ardian Sopa pun menilai hal tersebut menunjukkan belum ada pasangan yang pasti akan melaju ke putaran dua.
Survei ini dilakukan pada 8-9 Februari 2017 dengan melibatkan 1.200 responden yang dipilih dengan metode multistage random sampling. Margin of error survei sebesar plus minus 2,9 persen.

YOHANES PASKALIS | FRISKI RIANA | ADITYA BUDIMAN