Nasional, Jakarta - Siti Maryam Salahuddin Rachmad, 90 tahun (lahir 13 Juni 1927), putri ketujuh dari sembilan bersaudara Sultan Muhammad Salahuddin meninggal dunia di ICU Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bima, Sabtu 18 Maret 2017 pukul 14.00 Waktu Indonesia Tengah.

Siti Maryam yang bergelar Ina Ka'u di Kesultanan Bima meninggal setelah sejak Rabu 15 Maret 2017 malam menjalani perawatan dokter. Berdasar diagnosa, ia mengalami kebocoran jantung. Jenazah kini disemayamkan di Pendopo Kabupaten Bima. "Rencana dimakamkan di halaman Masjid Sultan Bima, Ahad besok,'' kata Dewi Ratna Muchlisa-keponakan almarhumah yang sehari-hari dosen Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Bima.

Siti Maryam bergelar doktor filologi Universitas Padjadjaran setelah menjadi wisudawan tertua, 23 November 2010 lalu. Ia lahir dari permaisuri kedua Siti Aisyah- putri Sultan Dompu- setelah istri pertama Sultan Salahuddin yang sebelumnya meninggal. Ia putri kedua dari empat bersaudara setelah Sultan Salahuddin menikahi Siti Aisyah.

Alamrhumah adalah pensiunan Asisten Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat dan pernah menjadi anggota MPR RI 1987-1992 dan anggota DPR RI 1992-1997. Saat ini ia menjadi Ketua Umum Komite Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa – yang mengusulkan pemekaran wilayah dari Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sultan Muhammad Salahuddin merupakan keturunan langsung ke-25 Raja Indra Zamrud atau ke-13 dari Sultan Abdul Kahir setelah Sultan Islam yang pertama. Kesultanan Bima semula adalah kerajaan yang terletak di Bima, pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kesultanan Bima berubah menjadi kesultanan Islam setelah Raja XXVII yang bergelar Ruma Ta Ma Bata Wadu memeluk Islam sejak Tahun 1640. Ia kemudian berganti nama Sultan Abdul Kahir sekaligus menjadi Sultan Bima I.

Sejak 2005, Kabupaten Bima dipimpin oleh Ferry Zulkarnain bergelar Jena Teke– anak dari Sultan Bima ke-14 yang juga bernama Abdul Kahir, cucu dari Sultan Bima ke-13 Muhammad Salahuddin - melalui pemilihan kepala daerah, dan berlanjut setelah kembali terpilih pada 2010.

Siti Maryam meninggalkan Museum Samparaja yang menyimpan koleksi benda-benda bersejarah Kesultanan Bima. Saat ini, Kabupaten Bima dipimpin oleh Indah Damayanti- istri almarhum Ferry Zulkarnain- keponakan yang juga Bupati Bima bergelar Jena Teke atau putra mahkota.

Kesultanan Bima memiliki sumbangan memperjuangkan berdirinya Republik Indonesia, termasuk kerajaan yang diakui kedaulatannya oleh Belanda, tidak dijajah dalam arti pemerintahannya dijalankan sendiri. Tapi pemerintah Belanda menempatkan seorang wakil sebagai Asisten Residen.

SUPRIYANTHO KHAFID